Negara Pengimpor Kopi Terbesar di Dunia, Ke Mana Jutaan Kantong dari Brasil dan Vietnam Sebenarnya Pergi?

Kalau sebelumnya kita membahas negara yang mengirim jutaan kantong kopi ke pasar dunia, sekarang pertanyaannya di balik.Siapa sebenarnya negara pengimpor kopi terbesar yang membeli semua biji tersebut?

Jawabannya memperlihatkan pola perdagangan yang sangat menarik.

Sebagian besar kopi tumbuh di wilayah tropis seperti Brasil, Vietnam, Kolombia, Ethiopia, Indonesia, Uganda, Honduras, dan Peru.

Namun sebagian pasar terbesar justru berada ribuan kilometer dari perkebunan.

Amerika Serikat mengimpor kopi dalam jumlah raksasa karena konsumsi domestiknya sangat besar dan produksi lokalnya terlalu kecil untuk memenuhi kebutuhan.

Jepang hampir tidak mempunyai perkebunan komersial berskala nasional, tetapi budaya kopi filter, kissaten, convenience store, ready-to-drink, dan specialty coffee membuat permintaannya tetap tinggi.

China mempunyai cerita berbeda lagi.

Negara tersebut memang menghasilkan kopi di Yunnan dan Hainan, tetapi konsumsi yang tumbuh cepat membuat impor terus naik.

Kemudian ada Filipina yang terlihat mengejutkan dalam ranking karena kebutuhan soluble coffee dan produk kopi olahannya sangat besar.

Berdasarkan laporan resmi Coffee: World Markets and Trade USDA Foreign Agricultural Service edisi Juli 2026, total impor kopi dunia untuk musim 2025/26 di perkirakan mencapai sekitar 142,93 juta kantong setara 60 kilogram setelah green bean, roasted coffee, dan soluble coffee di konversi ke green bean equivalent.

Uni Eropa menjadi pasar terbesar jika di hitung sebagai satu blok dengan sekitar 46,5 juta kantong.

Namun Uni Eropa bukan satu negara.

Kalau rankingnya benar-benar berdasarkan negara individual, Amerika Serikat berada sangat jauh di depan dengan sekitar 25,5 juta kantong.

Dari sana barulah Jepang, Filipina, China, Kanada, Rusia, Inggris, Swiss, serta Korea Selatan muncul sebagai kelompok pembeli terbesar.

Yang menarik, mereka tidak mengimpor kopi dengan alasan yang sama.

Ada yang membutuhkannya untuk konsumsi domestik, ada yang mempunyai industri roasting besar, ada yang menjadi pusat perdagangan, sementara beberapa negara membeli green bean lalu mengekspor kembali produk dengan nilai lebih tinggi.

Sebelum Melihat Negara Pengimpor Kopi Terbesar, Ada Satu Hal yang Harus Di pahami

Ranking impor kopi bisa terlihat berbeda tergantung apa yang sedang di hitung.

Green bean merupakan biji kopi mentah sebelum roasting.

Namun perdagangan internasional juga mencakup roasted coffee dan soluble coffee seperti ekstrak serta kopi instan.

USDA mengubah bentuk-bentuk tersebut menjadi green bean equivalent agar volumenya bisa di bandingkan menggunakan satu unit yang sama.

Kopi sangrai di konversi menggunakan faktor 1,19, sementara soluble coffee menggunakan faktor 2,6.

Untuk negara nonprodusen, USDA juga menggunakan keseimbangan antara impor dan ekspor agar kopi yang hanya masuk lalu kembali keluar tidak di hitung dua kali sebagai konsumsi baru.

Metode tersebut penting karena negara seperti Swiss, Jerman, Belgia, Belanda, dan Italia tidak hanya membeli kopi untuk di minum sendiri.

Mereka juga memanggang, mengemas, memproses, atau memindahkan kembali kopi ke pasar lain.

Karena itu, angka impor tinggi belum tentu berarti seluruh biji tersebut berakhir dalam cangkir masyarakat negara tersebut.

Uni Eropa – Kalau Di hitung Sebagai Satu Blok, Tidak Ada yang Mendekati

Sebelum masuk ke ranking negara individual, Uni Eropa memang harus di bahas terpisah.

USDA memperkirakan impor green bean Uni Eropa mencapai sekitar 46,5 juta kantong 60 kilogram pada musim 2025/26.

Untuk 2026/27, angkanya bahkan di proyeksikan naik menjadi 50 juta kantong.

Itu sendiri hampir dua kali lipat impor Amerika Serikat.

Namun angka tersebut menggabungkan 27 negara anggota, sehingga tidak adil jika Uni Eropa di taruh sebagai satu “negara” dalam ranking.

Di dalam blok tersebut terdapat beberapa raksasa kopi.

Jerman menjadi salah satu pintu masuk green coffee terbesar Eropa.

Data World Bank WITS berdasarkan UN Comtrade menunjukkan Jerman mengimpor sekitar 1,12 miliar kilogram green coffee pada 2024.

Brasil sendiri memasok sekitar 502,7 juta kilogram, sedangkan Vietnam sekitar 185 juta kilogram.

Sebagian kopi tersebut kemudian di sangrai di Jerman, sebagian di konsumsi domestik, sementara bagian lain kembali masuk jaringan perdagangan Eropa.

Italia mempunyai industri espresso dan roasting yang besar, sedangkan Belgia serta Belanda mempunyai pelabuhan yang berfungsi sebagai pintu distribusi.

Itulah alasan angka Uni Eropa terlihat luar biasa besar.

Ia merupakan pasar konsumsi besar sekaligus pusat pengolahan dan perdagangan kopi global.

1. Amerika Serikat – Negara Pengimpor Kopi Terbesar Jika Di hitung Secara Individual

Amerika Serikat berada di level yang sulit di saingi negara individual lain.

USDA memperkirakan total impor kopi AS pada musim 2025/26 sekitar 25,5 juta kantong 60 kilogram dalam green bean equivalent.

Dari jumlah tersebut, sekitar 23,1 juta kantong berupa green bean.

Sekitar 900 ribu kantong ekuivalen datang dalam bentuk roasted coffee, sedangkan soluble coffee menyumbang kurang lebih 1,5 juta kantong ekuivalen.

Untuk musim 2026/27, USDA memperkirakan impor total AS naik menjadi sekitar 26,9 juta kantong.

Kenapa Amerika Serikat Harus Mengimpor Sebanyak Itu?

Jawaban paling sederhana adalah konsumsi.

USDA memperkirakan konsumsi domestik Amerika Serikat sekitar 25,55 juta kantong pada 2025/26.

Produksi domestiknya sangat kecil jika di bandingkan kebutuhan nasional.

Amerika memang mempunyai produksi kopi di Hawaii dan dalam skala lebih kecil di wilayah lain.

Namun jumlah tersebut tidak mendekati kebutuhan negara berpenduduk ratusan juta orang.

Cafe chain, restoran, convenience store, rumah tangga, kantor, cold brew, specialty roaster, kapsul kopi, serta produk ready-to-drink semuanya membutuhkan pasokan kontinu.

AS juga membeli spektrum kualitas yang sangat luas.

Brasil dan Kolombia menjadi pemasok penting untuk Arabika, sementara kopi dari Honduras, Peru, Guatemala, Ethiopia, Indonesia, Vietnam, serta puluhan origin lain masuk untuk berbagai kebutuhan.

Satu negara akhirnya membutuhkan kopi komersial dalam volume besar sekaligus microlot bernilai tinggi untuk pasar specialty.

2. Jepang – Tidak Menanam Banyak, tetapi Budaya Kopinya Sudah Sangat Dalam

Jepang berada jauh di bawah AS dari sisi jumlah, tetapi tetap menjadi salah satu negara pengimpor kopi terbesar dunia.

USDA memperkirakan total impor Jepang sekitar 6,585 juta kantong pada 2025/26.

Green bean menyumbang sekitar 5,8 juta kantong, sementara soluble coffee berada di kisaran 685 ribu kantong ekuivalen.

Untuk 2026/27, total impor Jepang di perkirakan mencapai sekitar tujuh juta kantong.

Kenapa Jepang Membutuhkan Jutaan Kantong?

Budaya kopi Jepang berkembang dalam banyak bentuk sekaligus.

Di sana ada kissaten tradisional yang sudah muncul selama puluhan tahun.

Selain itu, ada hand-drip dengan perhatian ekstrem terhadap teknik.

Kemudian, ada specialty roaster modern, convenience store coffee, vending machine, canned coffee, serta bottled coffee.

Jepang bahkan menjadi salah satu pasar yang sangat penting bagi origin premium seperti Jamaica Blue Mountain.

Industri roasting domestiknya juga besar.

Artinya mayoritas green bean di impor terlebih dahulu lalu profil roasting di sesuaikan dengan pasar lokal.

Jepang hampir tidak mempunyai kondisi geografis untuk menghasilkan volume kopi yang sebanding dengan kebutuhannya.

Karena itu impor menjadi kebutuhan struktural, bukan sekadar pilihan.

3. Filipina – Rankingnya Tinggi Bukan Karena Green Bean Saja

Filipina menjadi salah satu nama paling mengejutkan dalam daftar.

USDA memperkirakan total impor negara tersebut mencapai sekitar 6,075 juta kantong pada musim 2025/26.

Namun ada detail penting.

Sebagian sangat besar angka tersebut datang dari soluble coffee.

Impor soluble Filipina sendiri di perkirakan sekitar 5,5 juta kantong dalam green bean equivalent.

Artinya struktur impornya sangat berbeda dari Jepang atau Amerika Serikat.

Kenapa Filipina Mengimpor Banyak Padahal Juga Menghasilkan Kopi?

Filipina memang mempunyai produksi domestik Arabika, Robusta, Liberica, dan Excelsa.

Namun jumlah produksi lokal belum mampu memenuhi permintaan industri serta konsumsi domestik.

Kopi instan dan campuran kopi siap seduh mempunyai pasar yang sangat besar.

Produk 3-in-1 juga sudah lama menjadi bagian penting dari konsumsi harian.

Ketika industri membutuhkan volume lebih besar daripada kemampuan kebun lokal, impor menjadi jalan paling masuk akal.

Kasus Filipina menunjukkan kenapa ranking impor tidak boleh hanya di baca sebagai “negara ini membeli banyak biji mentah”.

Bentuk produk yang masuk bisa sama pentingnya dengan volumenya.

4. China – Pasarnya Tumbuh Lebih Cepat daripada Produksi Lokal

China menjadi salah satu negara paling menarik untuk di pantau dalam perdagangan kopi modern.

USDA memperkirakan total impor China sekitar 5,75 juta kantong pada 2025/26.

Green bean berada di kisaran 3,7 juta kantong, sedangkan soluble coffee sekitar 1,9 juta kantong ekuivalen.

Untuk 2026/27, total impor bahkan di proyeksikan naik menjadi sekitar 6,05 juta kantong.

Bandingkan dengan musim 2021/22 ketika total impor China baru sekitar 4,18 juta kantong.

Pertumbuhannya terlihat jelas.

Tapi Bukannya China Juga Menanam Kopi?

Benar.

Yunnan merupakan pusat produksi kopi China, terutama Arabika.

USDA memperkirakan produksi nasional sekitar 1,9 juta kantong.

Masalahnya, konsumsi domestik sudah berada jauh di atas angka tersebut.

Pada 2025/26, konsumsi China di perkirakan mencapai sekitar 6,42 juta kantong dan naik menuju 6,75 juta pada musim berikutnya.

Perkembangan coffee chain, cafe independen, delivery app, ready-to-drink, serta perubahan gaya hidup perkotaan ikut mendorong permintaan.

China akhirnya berada dalam posisi unik.

Ia adalah negara produsen sekaligus importir yang semakin besar.

Kalau pertumbuhan konsumsi terus bergerak lebih cepat daripada produksi Yunnan, kebutuhan impornya masih mempunyai ruang untuk naik.

5. Kanada – Penduduknya Jauh Lebih Sedikit dari AS, Impornya Tetap Besar

Kanada di perkirakan mengimpor sekitar 5,05 juta kantong kopi pada musim 2025/26.

Sekitar tiga juta kantong merupakan green bean.

Soluble coffee menyumbang sekitar 1,6 juta kantong ekuivalen, sementara sisanya datang dari bentuk kopi lain.

Angka tersebut sangat besar jika mempertimbangkan jumlah penduduk Kanada jauh di bawah Amerika Serikat.

Kenapa Impornya Bisa Setinggi Itu?

Pertama, budaya konsumsi kopi Kanada memang kuat.

Kedua, produksi domestiknya praktis tidak mampu memenuhi permintaan karena sebagian besar wilayah mempunyai iklim yang tidak cocok untuk perkebunan kopi terbuka.

Ketiga, negara tersebut mempunyai industri roasting serta jaringan coffee shop nasional yang luas.

USDA memperkirakan konsumsi Kanada pada 2025/26 juga sekitar 5,05 juta kantong.

Kesamaan antara angka impor dan konsumsi menunjukkan betapa bergantungnya pasar Kanada pada pasokan dari luar.

6. Rusia – Iklim Membuat Hampir Seluruh Kebutuhan Harus Datang dari Luar

Rusia berada dalam posisi yang sangat berbeda dari negara produsen tropis.

USDA memperkirakan total impor kopi Rusia sekitar 4,575 juta kantong pada musim 2025/26.

Green bean menyumbang sekitar 3,8 juta kantong, sedangkan roasted coffee sekitar 350 ribu kantong ekuivalen.

USDA juga memperkirakan konsumsi domestiknya berada di angka yang sama, sekitar 4,575 juta kantong.

Kenapa Rusia Tidak Menanam Sendiri?

Sebagian besar wilayah Rusia mempunyai musim dingin yang terlalu keras untuk tanaman kopi tropis tahunan.

Karena itu green coffee hampir seluruhnya harus di datangkan dari negara produsen.

Biji kemudian dapat di sangrai oleh perusahaan lokal untuk pasar domestik.

Pertumbuhan konsumsi espresso, kopi instan, coffee shop, dan specialty coffee dalam beberapa dekade terakhir membuat impor tetap berada di level jutaan kantong.

Kasus Rusia memperlihatkan hubungan sederhana antara geografi dan perdagangan.

Kalau iklim hampir menutup kemungkinan produksi lokal, seluruh pasar bergantung pada kapal, kereta, gudang, dan hubungan dagang internasional.

7. Inggris – Minum Tehnya Ikonik, Impor Kopinya Tetap Jutaan Kantong

Inggris sering di identikkan dengan teh.

Namun data kopi menunjukkan cerita yang jauh lebih besar daripada stereotip tersebut.

USDA memperkirakan total impor Inggris sekitar 4,57 juta kantong pada musim 2025/26.

Green bean berada di sekitar 2,4 juta kantong.

Roasted coffee mencapai sekitar 730 ribu kantong ekuivalen, sedangkan soluble coffee sekitar 1,44 juta.

Untuk 2026/27, total impornya di proyeksikan naik menjadi sekitar 4,85 juta kantong.

Kenapa Negara Teh Membeli Kopi Sebanyak Itu?

Coffee shop culture Inggris berkembang sangat kuat.

London, Manchester, Edinburgh, Bristol, Glasgow, dan banyak kota lain mempunyai jaringan coffee chain sekaligus specialty roaster independen.

Pasar kopi instan juga sudah lama besar di Inggris.

Komposisi impornya menunjukkan hal tersebut.

Inggris tidak hanya membeli green bean untuk roasting domestik, tetapi juga mengimpor kopi panggang dan soluble dalam volume signifikan.

Jadi budaya teh tidak menghalangi kopi menjadi industri bernilai besar.

8. Swiss – Negara Kecil dengan Industri Kopi yang Ukurannya Tidak Kecil Sama Sekali

Swiss mempunyai populasi relatif kecil, tetapi USDA memperkirakan total impor kopinya sekitar 3,5 juta kantong pada 2025/26.

Hampir seluruh angka tersebut berupa green bean.

Kalau hanya melihat konsumsi domestik, angkanya jauh lebih kecil.

USDA memperkirakan konsumsi Swiss sekitar 1,2 juta kantong pada musim yang sama.

Lalu ke mana sisanya?

Swiss Bukan Hanya Negara Konsumen

Swiss mempunyai industri roasting, pengolahan, perdagangan komoditas, serta produk kopi bermerek yang sangat besar.

Nestlé berkantor pusat di Swiss dan negara tersebut mempunyai hubungan erat dengan industri soluble serta capsule coffee.

USDA memperkirakan ekspor roasted coffee Swiss mencapai sekitar 1,9 juta kantong ekuivalen pada 2025/26.

Dengan kata lain, Swiss membeli green bean, memberi nilai tambah melalui roasting serta manufacturing, kemudian sebagian produk kembali di kirim ke luar negeri.

Ini contoh sempurna kenapa impor tinggi tidak selalu berarti konsumsi penduduknya setara dengan volume tersebut.

9. Korea Selatan – Specialty Coffee Membantu Mengubah Negara Ini Menjadi Pasar Besar

Korea Selatan di perkirakan mengimpor sekitar 3,2 juta kantong kopi pada musim 2025/26.

Sekitar 2,8 juta kantong merupakan green bean, sedangkan roasted coffee berada di kisaran 400 ribu kantong ekuivalen.

Untuk 2026/27, USDA memperkirakan totalnya naik menjadi sekitar 3,4 juta kantong.

Angkanya memang di bawah Jepang.

Namun pengaruh budaya cafe Korea jauh lebih besar daripada yang terlihat dari ranking saja.

Kenapa Korea Selatan Menjadi Pasar Penting?

Cafe mempunyai peran sosial yang sangat kuat di kota besar seperti Seoul dan Busan.

Jaringan coffee shop tumbuh bersama roaster specialty, dessert cafe, serta tren minuman musiman.

Korea juga menjadi pasar menarik bagi kopi premium dan lot kompetisi.

Roaster Asia Timur sering ikut bersaing membeli Geisha Panama serta microlot mahal dari berbagai origin.

Karena produksi kopi domestiknya nyaris tidak relevan untuk skala konsumsi nasional, hampir seluruh pasokan harus datang dari luar negeri.

10. Meksiko – Kasus Unik karena Menanam Kopi tetapi Tetap Mengimpornya

Meksiko berbeda dari Amerika Serikat, Jepang, atau Korea Selatan.

Negara ini memang menghasilkan kopi.

USDA memperkirakan produksi musim 2025/26 sekitar 4,08 juta kantong dan naik menuju sekitar 4,14 juta pada 2026/27.

Namun Meksiko juga mengimpor green bean dalam jumlah sekitar 2,03 juta kantong pada 2025/26.

Sekilas terlihat aneh.

Kenapa negara penghasil kopi masih membeli kopi dari negara lain?

Karena Industri Kopi Tidak Selalu Membutuhkan Biji yang Sama

Sebagian kopi domestik Meksiko di ekspor karena mempunyai pasar dan nilai tertentu.

Di saat yang sama, industri soluble dan produk mass market membutuhkan bahan baku dengan profil serta harga berbeda.

Perusahaan bisa memilih mengimpor green bean yang lebih sesuai bagi proses industri sambil tetap mengekspor kopi lokal bernilai lebih tinggi.

Fenomena serupa juga muncul di negara produsen lain.

Kolombia pada musim 2025/26 bahkan di perkirakan mengimpor sekitar 2,2 juta kantong green bean setelah produksi domestiknya turun, agar konsumsi dalam negeri tetap dapat di pertahankan.

Jadi menjadi produsen kopi bukan berarti pintu impor otomatis tertutup.

Kenapa Jerman Tidak Muncul Sebagai Negara di Tabel USDA Padahal Impornya Sangat Besar?

Ini pertanyaan yang kemungkinan muncul kalau seseorang sudah pernah melihat statistik perdagangan kopi internasional.

Jawabannya sederhana.

USDA menggabungkan 27 negara anggota Uni Eropa sebagai satu entitas dalam tabel Coffee: World Markets and Trade.

Karena itu Jerman, Italia, Prancis, Belgia, Belanda, Spanyol, dan negara anggota lain tidak muncul sebagai baris individual.

Namun data perdagangan terpisah menunjukkan Jerman merupakan pemain raksasa.

Menurut World Bank WITS yang memakai data UN Comtrade, Jerman mengimpor sekitar 1,12 miliar kilogram green coffee pada 2024.

Kalau angka tersebut di bagi ukuran standar 60 kilogram, volumenya setara kira-kira 18,7 juta kantong.

Angka itu tidak boleh langsung di sejajarkan dengan tabel net import USDA karena metodologi dan periode pengukurannya berbeda.

Namun skalanya cukup untuk menunjukkan betapa pentingnya Jerman dalam rantai pasok Eropa.

Sebagian besar green coffee masuk melalui jaringan pelabuhan dan logistik, kemudian di roasting atau di distribusikan kembali.

Kenapa Negara Kaya Justru Banyak Mengimpor Green Bean dan Menyangrainya Sendiri?

Di sinilah struktur ekonomi kopi mulai terlihat.

Green bean mempunyai umur simpan jauh lebih panjang dibanding kopi yang sudah di sangrai.

Roaster juga ingin mengendalikan profil roasting sesuai selera konsumennya.

Biji Ethiopia yang masuk Jepang mungkin di roasting berbeda dari biji Ethiopia yang masuk Italia.

Kopi Brasil untuk espresso blend juga bisa membutuhkan pendekatan berbeda dari produk filter coffee di Skandinavia.

Karena itu negara konsumen besar lebih suka membeli green coffee dalam jumlah besar lalu menghasilkan produk akhirnya sendiri.

Ada alasan ekonomi lain.

Roasting, blending, packaging, branding, kapsul, soluble processing, retail, serta penjualan cafe memberikan nilai tambah yang jauh lebih tinggi daripada menjual bahan mentah saja.

Swiss merupakan contoh ekstrem.

Negara tersebut mengimpor jutaan kantong green coffee, mengolah sebagian menjadi produk bernilai tinggi, lalu mengekspornya kembali.

Jerman, Italia, Belanda, dan Belgia juga memainkan peran penting dalam pola tersebut.

Kenapa Negara Pengimpor Tidak Membeli dari Satu Negara Saja?

Karena kopi bukan komoditas homogen sepenuhnya.

Arabika Brasil tidak mempunyai karakter dan fungsi pasar yang selalu sama dengan Robusta Vietnam.

Ethiopia menawarkan profil floral serta fruity yang banyak di cari specialty roaster, sementara Colombia menyediakan Arabika konsisten dalam volume besar.

Indonesia mempunyai Robusta sekaligus origin Arabika dengan karakter unik.

Honduras dan Peru dapat memasok Arabika dalam volume besar, sedangkan Uganda menjadi sumber Robusta yang semakin penting.

Roaster juga tidak ingin seluruh bisnis bergantung pada satu origin.

Kekeringan di Brasil, hujan ekstrem di Kolombia, gangguan panen Vietnam, konflik logistik, penyakit tanaman, atau perubahan harga dapat membuat pasokan terganggu.

Diversifikasi origin akhirnya berfungsi seperti perlindungan risiko.

Karena itu satu negara importir bisa membeli kopi dari puluhan negara produsen dalam tahun yang sama.

Impor Banyak Tidak Selalu Berarti Penduduknya Minum Kopi Paling Banyak

Ini juga harus di bedakan.

Amerika Serikat mengimpor sangat banyak karena populasi serta pasar domestiknya besar.

Namun konsumsi per kapita negara seperti Finlandia atau Norwegia dapat lebih tinggi.

Swiss mempunyai volume impor besar, tetapi sebagian kopi kembali di ekspor setelah roasting.

Jerman berfungsi sebagai pasar konsumen sekaligus pusat pengolahan serta distribusi Eropa.

Jadi ada tiga ukuran yang tidak boleh di campur.

Total impor menunjukkan seberapa banyak kopi masuk ke suatu pasar.

Konsumsi nasional menunjukkan berapa banyak yang benar-benar di gunakan di dalam negeri.

Konsumsi per kapita menunjukkan rata-rata kebutuhan jika jumlah tersebut di bagi populasi.

Ketiganya dapat menghasilkan ranking yang sangat berbeda.

China Bisa Menjadi Ancaman Besar bagi Ranking Negara Pengimpor Kopi?

Kalau melihat tren jangka menengah, China menjadi salah satu negara yang paling layak di pantau.

USDA mencatat total impor sekitar 4,18 juta kantong pada 2021/22.

Pada 2025/26 angkanya sudah naik menjadi sekitar 5,75 juta.

Untuk 2026/27, proyeksinya mencapai sekitar 6,05 juta kantong.

Konsumsi domestiknya juga di perkirakan naik dari 4,92 juta kantong pada 2021/22 menjadi sekitar 6,75 juta pada 2026/27.

Dalam industri sebesar kopi, kenaikan hampir dua juta kantong hanya dalam beberapa tahun bukan angka kecil.

China juga mempunyai populasi luar biasa besar.

Artinya sedikit kenaikan konsumsi per orang saja dapat berubah menjadi kebutuhan jutaan kantong secara nasional.

Belum tentu China akan segera mengejar Amerika Serikat.

Jaraknya masih sangat besar.

Namun dalam kelompok negara importir menengah, pertumbuhannya sudah terlalu jelas untuk di abaikan.

Apa yang Terjadi Kalau Negara Pengimpor Besar Mendadak Membeli Lebih Banyak?

Dampaknya dapat terasa sampai ke perkebunan yang berada di sisi lain planet.

Kalau permintaan AS, Uni Eropa, Jepang, atau China naik ketika produksi global sedang ketat, persaingan mendapatkan green bean ikut meningkat.

Harga dapat naik.

Roaster kemudian membayar bahan baku lebih mahal, importir membutuhkan modal kerja lebih besar, sementara konsumen berpotensi melihat kenaikan harga secangkir kopi.

Kebalikannya juga berlaku.

Jika ekonomi melemah dan konsumsi turun ketika panen global besar, tekanan harga dapat bergerak ke bawah.

USDA memperkirakan produksi kopi dunia 2026/27 mencapai rekor sekitar 189,7 juta kantong.

Konsumsi global di proyeksikan sekitar 179,7 juta kantong.

Dengan suplai yang mulai membaik, stok akhir global di perkirakan naik menjadi sekitar 26,3 juta kantong.

Namun pasar masih sangat sensitif terhadap produksi Brasil karena negara tersebut sendiri menyumbang hampir 40 persen produksi dunia menurut USDA.

Itulah alasan cuaca di Minas Gerais dapat memengaruhi harga yang akhirnya di bayar roaster di New York, Tokyo, London, atau Seoul.

Kesimpulan

Daftar negara pengimpor kopi terbesar memperlihatkan sisi lain dari industri yang sebelumnya kita lihat dari negara eksportir.

Brasil, Vietnam, Kolombia, Ethiopia, Indonesia, Uganda, Honduras, serta Peru menghasilkan sebagian besar biji yang bergerak di pasar internasional.

Di ujung lain terdapat negara yang membutuhkan jutaan kantong untuk menjaga coffee shop, roastery, supermarket, pabrik soluble, convenience store, restoran, serta rumah tangga tetap mempunyai pasokan.

Jika Uni Eropa di hitung sebagai satu blok, ia menjadi pasar impor terbesar dengan sekitar 46,5 juta kantong pada musim 2025/26.

Namun untuk satu negara individual, Amerika Serikat menjadi nomor satu dengan sekitar 25,5 juta kantong.

Jepang berada di sekitar 6,585 juta kantong, Filipina 6,075 juta, China 5,75 juta, Kanada 5,05 juta, Rusia 4,575 juta, Inggris 4,57 juta, Swiss 3,5 juta, dan Korea Selatan sekitar 3,2 juta.

Angka tersebut juga menjelaskan kenapa ranking impor tidak sama dengan ranking penikmat kopi per kapita.

Amerika membeli sangat banyak karena populasinya besar.

Filipina terdorong kuat oleh kebutuhan soluble coffee.

Swiss mengimpor green bean untuk industri yang kemudian mengekspor kembali kopi bernilai lebih tinggi.

China bahkan berada dalam posisi sebagai produsen sekaligus importir yang kebutuhannya terus berkembang.

Perdagangan Kopi Dunia dan Dampaknya

Pada akhirnya, perdagangan kopi dunia terlihat seperti dua peta yang saling melengkapi.

Coffee Belt menghasilkan sebagian besar bijinya, sedangkan Amerika Utara, Eropa, dan Asia Timur menyerap volume sangat besar untuk konsumsi dan pengolahan.

Itulah alasan secangkir kopi sederhana sebenarnya mempunyai perjalanan global yang panjang.

Biji dapat tumbuh di Minas Gerais, di kirim melalui Santos, masuk pelabuhan di negara konsumen, di roasting ratusan atau ribuan kilometer kemudian, lalu baru berakhir di sebuah cangkir.

Dan berdasarkan data USDA terbaru, tidak ada satu negara individual yang membeli kopi sebanyak Amerika Serikat.


Baca juga:
Negara Pengekspor Kopi Terbesar di Dunia |
Negara Penikmat Kopi Terbanyak di Dunia |
Negara yang Paling Terkenal karena Kopinya |
Semua Jenis Biji Kopi di Dunia

Referensi:
USDA Foreign Agricultural Service – Coffee: World Markets and Trade, July 2026 |
International Coffee Organization – Trade Statistics |
International Coffee Organization – World Coffee Statistics Database |
World Bank WITS – Germany Green Coffee Imports