Arabika dan Robusta.
Jawaban itu memang tidak sepenuhnya salah.
Dua jenis tersebut memang menguasai hampir seluruh pasar kopi dunia.
Namun kalau di lihat dari sisi botani, kenyataannya jauh lebih mengejutkan.
Genus Coffea yang termasuk dalam keluarga Rubiaceae memiliki lebih dari 130 spesies yang telah di identifikasi para ilmuwan.
Sebagian besar memang tidak pernah masuk ke dalam cangkir kopi kita.
Ada yang hanya tumbuh di hutan Afrika.
Ada yang hampir punah.
Dan juga yang secara alami tidak mengandung kafein.
Bahkan ada spesies yang baru beberapa tahun terakhir kembali menarik perhatian ilmuwan karena di anggap mampu menyelamatkan masa depan industri kopi dari ancaman perubahan iklim.
Lalu apa saja jenis-jenis kopi tersebut, dan kenapa hanya sedikit yang berhasil menjadi kopi komersial?
Kenapa Dunia Hanya Mengenal Arabika dan Robusta?
Secara ilmiah, dunia mengenal lebih dari 130 spesies tanaman kopi.
Namun lebih dari 99 persen produksi kopi global hanya berasal dari dua spesies utama.
Yang pertama adalah Coffea arabica atau Arabika.
Yang kedua adalah Coffea canephora, yang lebih di kenal sebagai Robusta.
Alasannya sederhana.
Kedua spesies ini mampu menghasilkan panen yang stabil, mudah di budidayakan di banding spesies lain, serta memiliki cita rasa yang di terima pasar internasional.
Sebagian besar spesies kopi lainnya memiliki produksi buah yang sedikit, tumbuh sangat lambat, atau hanya hidup di habitat yang sangat terbatas.
1. Arabika, Raja Dunia Specialty Coffee
Arabika merupakan spesies kopi paling terkenal sekaligus paling banyak di perdagangkan di dunia.
Sekitar 60 hingga 70 persen produksi kopi global berasal dari spesies ini.
Habitat aslinya berada di dataran tinggi Ethiopia dan sebagian Sudan Selatan.
Arabika tumbuh paling baik pada ketinggian sekitar 900 hingga lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut.
Karena tumbuh di daerah yang lebih sejuk, buahnya matang lebih lambat.
Proses pematangan yang lebih lama memberi kesempatan terbentuknya gula alami dan senyawa aroma yang lebih kompleks.
Itulah sebabnya Arabika sering memiliki rasa yang lebih manis, lebih wangi, tingkat keasaman lebih cerah, serta karakter buah dan bunga yang lebih jelas di banding Robusta.
Sebagian besar kopi specialty dunia menggunakan Arabika sebagai bahan utama.
2. Robusta, Sang Tangguh dengan Kafein Lebih Tinggi
Kalau Arabika di kenal karena rasa, Robusta di kenal karena ketahanannya.
Nama “Robusta” sendiri berasal dari sifat tanaman yang jauh lebih kuat menghadapi panas, kelembapan tinggi, serta serangan hama.
Secara ilmiah, Robusta merupakan bagian dari spesies Coffea canephora.
Kandungan kafeinnya hampir dua kali lebih tinggi di banding Arabika.
Kafein tersebut sebenarnya berfungsi sebagai perlindungan alami tanaman terhadap serangga.
Dalam secangkir kopi, karakter Robusta biasanya lebih pahit, lebih pekat, memiliki body tebal, serta menghasilkan crema yang lebih banyak ketika di jadikan espresso.
Indonesia menjadi salah satu produsen Robusta terbesar di dunia bersama Vietnam dan Brasil.
3. Liberika, Kopi Berukuran Raksasa
Liberika berasal dari Afrika Barat, terutama Liberia, yang kemudian menjadi asal nama spesies ini.
Berbeda dari Arabika dan Robusta, pohon Liberika dapat tumbuh jauh lebih tinggi hingga mencapai belasan meter apabila tidak di pangkas.
Buah dan bijinya juga memiliki ukuran lebih besar.
Karakter rasanya sangat unik.
Sebagian orang menemukan aroma nangka matang, asap, rempah, bahkan kayu.
Karena profil rasanya sangat berbeda, Liberika memiliki penggemar tersendiri meski produksinya jauh lebih kecil di banding Arabika dan Robusta.
Di Indonesia, Liberika masih di budidayakan di beberapa daerah seperti Jambi.
4. Excelsa, Dulu Di anggap Spesies Sendiri
Excelsa sering membuat banyak orang bingung.
Dulu tanaman ini di klasifikasikan sebagai spesies tersendiri.
Namun penelitian botani modern memasukkannya sebagai bagian dari kelompok Liberika.
Meski demikian, dunia kopi masih sering menyebutnya sebagai Excelsa karena karakter rasanya memang sangat berbeda.
Excelsa memiliki tingkat keasaman tinggi dengan kombinasi rasa buah, sedikit asam, tetapi tetap memiliki body yang cukup berat.
Banyak roaster menggunakan Excelsa sebagai campuran untuk memberikan kompleksitas rasa.
5. Stenophylla, Kopi Langka yang Mulai Menarik Dunia
Dalam beberapa tahun terakhir, nama Coffea stenophylla menjadi perhatian para peneliti.
Spesies ini berasal dari Afrika Barat dan sempat di anggap hampir hilang dari budidaya.
Yang membuatnya istimewa adalah kemampuannya bertahan pada suhu yang lebih panas di banding Arabika.
Menariknya lagi, hasil uji cita rasa menunjukkan kualitasnya mendekati Arabika premium.
Di tengah ancaman perubahan iklim global, banyak ilmuwan berharap Stenophylla dapat menjadi salah satu kunci masa depan industri kopi.
6. Eugenioides, Salah Satu Leluhur Arabika
Kalau di tarik ke sejarah evolusi, Arabika sebenarnya merupakan hasil persilangan alami antara Coffea canephora dan Coffea eugenioides.
Eugenioides memiliki kandungan kafein yang sangat rendah.
Karakter rasanya cenderung lembut, manis, dengan tingkat kepahitan yang jauh lebih rendah di banding kopi pada umumnya.
Karena produksinya sangat sedikit, kopi ini hampir tidak pernah di temukan di pasaran umum.
7. Charrieriana, Kopi yang Hampir Tidak Mengandung Kafein
Kalau biasanya kopi tanpa kafein di peroleh melalui proses dekafeinasi, Charrieriana berbeda.
Spesies yang berasal dari Kamerun ini memang secara alami hampir tidak mengandung kafein.
Penemuannya menarik perhatian ilmuwan karena berpotensi menjadi alternatif bagi pengembangan kopi rendah kafein tanpa proses industri.
Namun hingga saat ini, Charrieriana belum di budidayakan secara luas.
8. Racemosa, Si Mungil dari Afrika Selatan
Racemosa tumbuh di wilayah pesisir Afrika Selatan.
Daunnya lebih kecil di banding Arabika maupun Robusta.
Kandungan kafeinnya juga jauh lebih rendah.
Karena produksinya sangat terbatas, Racemosa lebih banyak menjadi objek penelitian di banding komoditas perdagangan.
Masih Ada Lebih dari 120 Spesies Lain
Selain nama-nama yang sudah di kenal tadi, masih ada puluhan bahkan ratusan spesies kopi lain seperti Congensis, Mauritiana, Kapakata, Bakossii, dan berbagai spesies endemik Afrika.
Sebagian hanya tumbuh di kawasan hutan tertentu.
Sebagian lagi bahkan baru di dokumentasikan secara ilmiah dalam beberapa dekade terakhir.
Sayangnya, banyak spesies tersebut kini menghadapi ancaman kehilangan habitat akibat pembukaan hutan dan perubahan iklim.
Kenapa Spesies Langka Mulai Di cari Lagi?
Selama puluhan tahun industri kopi terlalu bergantung pada Arabika dan Robusta.
Ketika perubahan iklim mulai mengganggu produksi, para ilmuwan kembali mencari spesies liar yang mungkin memiliki sifat tahan panas, tahan penyakit, atau mampu tumbuh di lingkungan ekstrem.
Karena itulah konservasi kopi liar di Ethiopia, Afrika Barat, dan berbagai kawasan tropis kini menjadi sangat penting.
Bisa jadi, masa depan secangkir kopi yang kita nikmati justru bergantung pada spesies yang selama ini hampir tidak pernah di dengar masyarakat.
Kesimpulan
Kalau selama ini kamu mengira dunia kopi hanya terdiri dari Arabika dan Robusta, ternyata kenyataannya jauh lebih luas.
Jenis biji kopi yang di kenal ilmuwan mencapai lebih dari 130 spesies.
Sebagian memang hanya tumbuh liar di hutan Afrika, sebagian hampir punah, dan sebagian lagi baru mulai di pelajari karena di anggap mampu menyelamatkan masa depan industri kopi.
Arabika tetap menjadi raja specialty coffee.
Robusta menjadi tulang punggung produksi dunia.
Liberika dan Excelsa menawarkan karakter rasa yang unik.
Sementara Stenophylla, Eugenioides, Charrieriana, dan berbagai spesies liar lainnya menjadi harapan baru di tengah perubahan iklim global.
Baca juga:
Sejarah Kopi dari Ethiopia hingga Mendunia |
Negara Penikmat Kopi Terbanyak di Dunia |
Jauh Sebelum Ada Petani, Kopi Sudah Tumbuh Liar
Referensi:
World Coffee Research |
Royal Botanic Gardens, Kew |
International Coffee Organization

